Inalilahiwainahirojiun,...telah meninggal dunia Pak Hajar alias puk hajar dalam usia + 70 tahun pada malem minggu tanggal 15 Februari 2014 sekitar jam 23.00 di rumah duka RT. 02 Lingkungan banjar dasan agung baru. Sebelumnya beliua almahur sehayatnya aktif mengikuti sholat berjamaah dimasjid dan aktif membersihkan lingkungan dalam hal pekerjaan sampingan yaitu mengangkat sampah-sampah di lingkungan. Mudah-mudahan atas partisipasi dan keikhlasan almarhu sebagai ibadah amal jariah dan semoga diberikan rahmat hidayah atas segala-galanya di dunia untuk kehidupan diakhirat...amin
selamat jalan puk hajar semoga engkau diterima amal ibadahmu disisi Allah SWT amin
Jumat, 21 Februari 2014
Kamis, 13 Februari 2014
Budidaya Burung Puyuh
Kandang litter; kandang yang didalamnya terdapat litter.
Litter adalah alas lantai sebuah kandang yang terbuat dari serbuk atau
butiran-butiran benda yang mampu menyerap air dan bersifat cukup lembut. Kandang
litter ini ada dua jenis; Kandang litter panggung: Biasa digunakan pada
peternakan ayam broiler (ras), kandang litter panggung ini sewaktu-waktu bisa
diubah menjadi kandang baterai, caranya cukup dengan mengangkat (membuang
litter). Beberapa bahan yang dapat dijarikan litter; serbuk gergaji (serbuk
kayu) sekam padi, dan jerami. Kekrangan budidaya ternak puyuh di kandang litter
salah satunya adalah puyuh mudah terkena gangguan pernapasan jika litter
terlalau lama atau tidak diganti, litter harus diganti sesering mungkin, jika
litter sudah memadat maka kadar amoniak di kandang puyuh pasti akan meningkat.
Kelebihan menggunakan litter terletak pada kesehatan ternak puyu terutama
kesehatan kaki sebab litter jauh lebih lembut dibandingkan dengan lantai kandang
baterai yang umumnya terbuat dari jerejak kayu atau anyaman kawat. Kandang
litter melantai, kandang ini selamanya hanya bisa dibuat menjadi kandang litter
karena litter akan ditebar di lantai dasar kandang. Biaya kandang litter
melantai ini jauh lebih murah dibandingkan kandang litter panggung.
Burung puyuh petelur sebenarnya sama saja dengan puyuh
pedaging, dimana puyuh pedaging didapatkan dari ternak puyuh petelur yang telah
afkir. Puyuh afkir adalah burung puyuh yang sudah tidak mampu lagi menghasilkan
telur secara ekonomis. Sebagai seorang peternak yang hendak memulai bisnis
budidaya puyuh ada hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu, diantaranya:
Lokasi peternakan puyuh; harus diketahui bahwa puyuh gampang
stress ketika tingkat kebisingan lingkungan cukup tinggi. Jika puyuh petelur
mengalami stress bisa dipastikan puyuh tersebut tidak akan berproduksi
(bertelur). Oleh karena itu usahakan kandang puyuh jauh dari kebisingan. Burung
puyuh akan tumbuh sehat di tempat yang teduh, jadi alangkah baiknya kandang
puyuh diletakkna di bawah pepohonan rindang. Jika anda tinggal di lingkungan
yang padat penduduk maka budidaya puyuh tidak cocok untuk bisnis anda. Di
lingkukang padat penduduk bisnis budidaya peternakan yang cocok mungkin hanya ikan lele dan belut.
Pemasaran telur dan daging, sebelum anda memulai ternak
puyuh pastikan bahwa di daerah anda ada penampung telur puyuh. Hal ini karena
puyuh termasuk salah satu burung yang produksi telurnya sangat tinggi yakni
mencapai 300 butir/ tahun. Jika anda memelihara puyuh dalam skala besar maka
saluran pemasaran sudah benar-benar ada sebab daya tahan telur puyuh yang baik
cukup singkat hanya 3 minggu saja.
Selanjutnya gambaran garis besar cara beternak burung puyuh
petelur:
·
Siapkan kandang di lahan yang tepat,
dan arah yang tepat (memanjang dari timur ke barat)
·
Pesan bibit, anda bisa memesan puyuh
dara agar lebih mudah dalam perawatannya dan tingkat kematian juga rendah.
Alternatif lain anda bisa juga membeli mesin tetas dan menetaskan telur puyuh
sendiri; dalam hal ini anda harus benar-benar mengetahui ciri-ciri telur yang
fertil.
·
Isi kandang puyuh dengan kepadatan
yang tepat. Panjang kandang baterai puyuh tidak boleh lebih dari 2 meter untuk
menghindari aktivitas puyuh yang berlebihan dan lebar dari sebuah baterai
sebaiknya kurang dari 70 cm hal ini agar memudahkan kita ketika ingin menangkap
puyuh ataupun membersihkan kandang, tinggi dari kandang ataupun sangkar puyuh
juga tidak boleh lebih dari 40 Cm ukuran terbaik dan biasa digunakan adalah 30
cm, hal ini untuk menghindari kegiatan meloncat-loncat dari puyuh didalam
kandang. 1 box sangkar ini optimalnya diisi dengan 30 ekor puyuh. Jika kita
membuat sangkar/ kandang bertingkat lima berarti satu unit kandang bisa
menampung 150 ekor puyuh.
·
Siapkan pakan, puyuh memang bisa
mengkonsumsi pakan ayam, namun jika anda memiliki modal yang cukup sebaiknya
beli pakan yang khusus untuk puyuh petelur.
·
Hari pertama puyuh masuk kandang
harus sangat diperhatikan kenyamanan dari puyuh tersebut, hindarkan dari
kebisingan sehingga tidak stress. Jika puyuh sudah terbiasa dengan
lingkungannya perawatan dan pengawasan akan semakin mudah. perawatan puyuh
harian selengkapnya dapat dilihat di
sini.
Mungkin tulisan ini hanya disampaikan secara garis besar
saja namun saya yakin konsep dasarnya sudah terpapar dalam artikel ini secara
lengkap. Untuk detail dan pengembangannya akan lebih baik dikembangkan sesuai
daengan improfisasi anda sendiri, yang penting konsep-konsep dasar kandang
puyuh, pemasaran dan pemilihan umur bibit sudah bisa dipahami.
Sumber : http://kesehatan-ternak.blogspot.com/2013/05/cara-beternak-burung-puyuh-petelur.html
Kamis, 24 Oktober 2013
Etika dan Do'a Hewan Qurban
Bagaimana Etika dan Do’a Menyembelih Hewan Qurban ?
Saat hari raya idul Adha, tak lengkap rasanya tanpa menyembelih hewan
qurban. Beberapa lembaga
Amil Zakat, masjid, musholla, sekolah, dan
lain-lain berlomba-lomba mengumpulkan hewan qurban yang akan disembelih
saat hari raya tersebut. Ratusan bahkan ribuan sapi dan domba/kambing
dikumpulkan oleh lembaga-lembaga tersebut dengan berbagai macam cara
pengelolaan. Misalnya Masyarakat Repok Bebek (panggilan khas kampung) khususnya panitia kurban Masjid Al-Mutaqin Lingkungan Banjar Dasan Agung Baru Kelurahan Dasan Agung Baru Kecamatan Selaparang Kota Mataram tahun ini kembali mengadakan kurban yang alhamdulillah mendapakan 14 ekor kambing dan 1 ekor sapi dari masyarakat setempat sampai donatur luar kampung/kota atau Universitas Negeri Islam di Kota Mataram. Daging hewan kurban tersebut diperuntuhkan untuk masyarakat setempat dan luar kampung disamping hal tersebut masyarakat juga mengkele (bahasa sasak) makan besar di area halaman masjid.Sehingga yang perlu diperhatikan adalah saat penyembelihan kurban. Jangan
sampai lembaga atau panitia penyelenggara kurban tidak memperhatikan
adab-adab dan fiqh tentang penyembelihan hewan qurban.
| Foto Masjid Al-Mutaqin |
Allah berfirman, “Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu
bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,
maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan
berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka
makanlah… (QS. Al Haj: 36)
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan ayat di atas, (Untanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat. (Tafsir Ibn Katsir untuk ayat ini)
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud dan disahihkan Al-Albani).
Dzabh [arab: ذبح], menyembelih hewan dengan melukai
bagian leher paling atas (ujung leher). Ini cara menyembelih umumnya
binatang, seperti kambing, ayam, dst.
Pada bagian ini kita akan membahas tata cara Dzabh, karena Dzabh inilah menyembelih yang dipraktikkan di tempat kita -bukan nahr-.
Beberapa adab yang perlu diperhatikan:
1. Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibul kurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.
2. Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadis dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal.
Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian
menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam
pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).
3. Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan
disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum
disembelih. Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian
dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau
bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?!
Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani
dengan sanad sahih).
4. Menghadapkan hewan ke arah kiblat.
Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah:
Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196).
Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.
Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah:
Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196).
Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.
5. Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.
Imam An-Nawawi mengatakan,
Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).
Imam An-Nawawi mengatakan,
Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).
Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau
mengatakan, “Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri,
sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan
memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di
lambung sebelah kiri. (Syarhul Mumthi’, 7:442).
6. Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan
dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan meletakkan kaki beliau di
leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah …. (HR. Bukhari dan
Muslim).
7. Bacaan ketika hendak menyembelih.
Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,
Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,
‘Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama
Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu
adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121).
8. Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
9. Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).
Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:
hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau
hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul kurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban atau
Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).” [1]
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).
Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:
hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau
hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul kurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban atau
Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).” [1]
Catatan: Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya
sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika
menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.
10. Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.
Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.
Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.
11. Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.
Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):
Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):
- Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.
- Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.
- Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
12. Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.
Imam An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408)
Imam An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408)
13. Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.
Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.
Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.
Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, “Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembalih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,
“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 93893).
Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.
Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.” Imam Syafi’i mengatakan, “Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir, 15:224). Allahu a’lam
Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.
Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.” Imam Syafi’i mengatakan, “Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir, 15:224). Allahu a’lam
DOA MENYEMBELIH QURBAN
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya, serta umatnya yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Setiap orang yang berkurban tentunya berharap ibadahnya tersebut diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di samping memperhatikan jenis hewan kurban, umur dan kondisi hewan
kurban yang selamat dari cacat, kita juga harus memperhatikan tatacara
penyembelihannya. Di antaranya, memperhatikan bacaan saat menyembelih.
Apa dzikir atau doa yang diajarkan oleh syariat saat menyembelih hewan
kurban?
Pada ringkasnya, bagi orang yang ingin menyembelih hewan qurban disunnahkan baginya saat akan menyembelih untuk membaca:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنِّي
Artinya: (Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku).
Jika ia menyembelihkan hewan qurban milik orang lain, ia membaca:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ
“Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku.” Di tambah:
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ
“Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan,” (dengan menyebut namanya).
Namun yang wajib dari bacaan ini adalah membacaBasmalah (Bismillah).
Jika sudah membacanya, maka sah penyembelihan hewan qurban tersebut
walau tidak menambah bacaan selainnya. Adapun kalimat-kalimat sesudahnya
hanya anjuran, bukan wajib. Hal ini didasarkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
فَكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ
“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama
Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118)
وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut
nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam
itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Anas bin MalikRadhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:
ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى
وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkurban dengan ekor
domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk. Beliau
menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir
serta meletakkan kakinya di atas samping lehernya.”
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan
untuk membawakan satu ekor kibas bertanduk yang hitam kakinya, hitam
bagian perutnya, dan hitam di sekitar kedua matanya. Lalu dibawakan
kepada beliau untuk beliau sembelih sendiri. Beliau berkata kepada
‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, ambilkan sebilah pisau.” Kemudian beliau
bersabda, “Asahlah pisau itu dengan batu.” ‘Aisyah pun mengerjakan.
Kemudian beliau mengambil pisau dan mengambil kibas tersebut, lalu
beliau membaringkannya dan menyembelihnya. Kemudian beliau berucap:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَآل مُحَمَّد وَمِنْ أُمَّة مُحَمَّد
“Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga
Muhammad, serta dari umat Muhammad.” Kemudian beliau menyembelihnya.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang maksudnya,
yaitu beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil membaca kalimat
di atas. (Lihat Syarah Muslim li al-Nawawi dalam keterangan hadits di
atas)
Dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Jabir bin AbdillahRadhiyallahu ‘Anhu berkata: “Aku menyaksikan Shalat Idul Adha di musholla bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketika
beliau selesai khutbah beliau turun dari mimbar dan dibawakan kepada
beliau seekor domba jantan lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
menyembelihnya sambil mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
“Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ini dariku dan dari setiap orang yang tidak berkurban dari umatku.” (Dishahihkan oleh-Al-albani rahimahullah dalam Shahih al-Tirmidzi)
Terdapat tambahan dalam sebagian riwayat,
اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ
“Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Lihat: Irwa’ al-Ghalil, no. 1138 dan 1152)
Maksud, Allahumma Minka (Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu): hewan kurban ini adalah rizki pemberian-Mu yang sampai kepadaku dari Engkau. Sedangkan Wa Laka (dan untuk-Mu) adalah ikhlas untuk-Mu
semoga bermanfaat ......, salam
sumber : http://lazis.staff.uns.ac.id/2012/10/15/bagaimana-etika-dan-doa-menyembelih-hewan-qurban
Langganan:
Postingan (Atom)
